Pengakuan PSK Prakla; Dijual Kakak Sepupu, Berharap Dipinang Pria Baik-Baik

Tubuhnya mungil. Bibirnya dibiarkan basah dengan warna lipstik yang ia kenakan malam itu seakan menjadi pemanis bagi perempuan yang biasa menghabiskan malamnya di salah satu wisma yang ada di Prakla, Berbas Pantai, Kecamatan Bontang Selatan, Kota Bontang Kalimantan Timur.


Mawar. Sebut saja namanya begitu. Perempuan yang lahir di Malang 10 Mei 22 tahun silam itu tak pernah sedikit pun terpikir untuk menjadi ‘kupu-kupu’ malam. Cita-cita mulia menjadi seorang guru sebenarnya pernah dia tanamkan. Sebuah cita-cita mulia yang kini pudar ditelan malam.

Jurang kelam kehidupan malam-lah yang justru kini dia dapat. Sebuah pekerjaan yang tidak pernah terlintas dipikirannya malah membuatnya kini terjebak dalam situasi yang mengiris hati.
Bontang, kota kecil yang belum pernah ada dibenaknya kini menjadi tumpuan hidupnya. Atau bisa jadi menjadi kota yang penuh dengan catatan kelam dirinya.

Ya, di kota yang memiliki jargon Kota Taman inilah, perempuan mungil justru menjadi pemanis bagi para pria hidung belang di sebuah wisma di lokasi tempat hiburan malam (THM) Prakla.

Kepada klikbontang, Mawar mengaku, awalnya dia ke Bontang diajak kakak sepupunya. Tapi tidak untuk menjadi pramuria. “Saya dijanjikan kerja di Bontang itu kerja yang baik-baik. Katanya kerja di restoran. Makanya saya tertarik untuk ke Bontang,” ungkapnya.

Tapi siapa sangka. Sang kakak yang harusnya menjadi benteng yang bisa melindunginya justru mendorongnya ke dunia yang buram. Tepat dua tahun silam, perempuan yang memiliki rambut panjang itu harus merelakan mahkotanya dirampas pria hidung belang tatkala dirinya menjadi ladies (sebutan perempuan yang menemani tamu di wisma).

Saat itu, Mawar mengaku sedang mabuk. Tegukan demi tegukan minuman keras yang diberikan tamunya membuat dia tak sadarkan diri.

“Kalau ingat ini lagi saya jadi sedih. Perawan saya hilang begitu saja kala itu. Saya tidak tahu pasti berapa harga perawan saya. Yang jelas saya hanya terima duit sekitar Rp 500 ribu,” kisahnya.

Mawar memang sebelumnya tak menyangka jika tempat dia bekerja merupakan tempat esek-esek. Bak kecelup dalam dasar lautan, Mawar pun saat ini terpaksa menjalani perannya sebagai wanita penghibur.
“Mau diapain lagi mas. Saya di Bontang tidak punya siapa-siapa. Semua sudah terjadi. Kakak saya malah jual saya. Ya mau tidak mau saya harus lakukan ini semua,” jelasnya.

Seiring jalannya waktu, Mawar pun mulai terbiasa dengan gaya hidup yang seperti dia lakukan saat ini. Membagi kasih sayangnya kepada para tamu demi pundi-pundi rupiah menjadi aktivitas sehari-hari yang harus dia lakukan.

Secara blak-blakan, Mawar mengaku untuk menikmati tubuhnya, para tamu harus rela merogoh kocek mulai Rp 300 ribu sampai Rp 1 Juta.

“Tergantung sih mas. Kalau short time itu Rp 300 ribu. Tapi kalau bermalam di wisma, itu Rp 500 ribu. Nah, kalau di bawa keluar itu satu juta,” bebernya.

Tapi apa yang didapatnya tak sepenuhnya menjadi miliknya. Dari pendapatan itu, dirinya harus berbagi dengan pemilik wisma. Hitungannya, jika dia dapat Rp 300 ribu maka ada jatah Rp 50-100 ribu yang harus disisihkannya. “Ya itu sudah peraturannya mas. Sewa kamar katanya. Tapi kalau saya dibawa ke hotel, saya harus setor Rp 200 ribu,” urainya.

Menjalani peran sebagai wanita penghibur, Mawar mengaku selalu bertolak belakang dengan hati nuraninya. Meski dari segi penghasilan, apa yang didapatnya cukup besar. “Sebulan saya bisa dapat sepuluh juta rupiah. Itu saya sisihkan dua juta buat orangtua saya di kampung,” ungkapnya.

Kendati mendapat penghasilan besar, Mawar mengaku tak mau menjalani pekerjaan PSK terus-menerus. Harapan untuk keluar dari jeretan prostitusi sangat besar dia tanamkan.
Ada satu keinginan yang saat ini ingin dia capai.

Jodoh. Satu kata itu yang dianggapnya bisa memiliki makna besar dalam perubahan hidupnya kelak. “Saya mau berhenti dari dunia kayak gini mas. Saya terus berdoa kalau ada laki-laki yang baik bisa menikahi saya dan membawa saya keluar dari pekerjaan saya saat ini. Saya tidak mau terus-terusan seperti ini,” tutupnya. (jm1)
--klik bontang--

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.